Respon Terhadap Penumpasan Sarang Teroris di Nanggroe Aceh Darussalam
Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso mengaku telah siap dengan pasukannya. Kekuatan yang disiapkan berasal dari Kodam I/Bukit Barisan, Kodam II/Sriwijaya, Badan Intelijen Strategis (BAIS) dan Komando Armada Wilayah Barat TNI AL. Demikian dikutip dari situs warta online detik. Pada berita lain di situs yang sama diberitakan polisi menambah 100 pasukan dikirimkan ke Aceh untuk menghadapi kelompok teroris di Aceh.
Itu adalah sekelumit berita yang menggambarkan bagaimana respon negeri ini ketika menghadapi isu terorisme. Upaya meningkatkan keamanan negara hingga ke tingkat RT, atau dengan memberikan santunan kepada pemuda pengangguran dianggap obat mujarab dan cara-cara paling tepat untuk menanggapi terorisme. Mungkin benar upaya-upaya tersebut merupakan obat mujarab, tapi belum tentu menjadi cara-cara paling tepat untuk menjamin terorisme tidak akan kambuh lagi.
Upaya meningkatkan keamanan Negara memang penting, memberikan santunan sosial untuk memberikan modal kerja bagi pemuda penganguran juga penting. Tapi tindakan tersebut bukanlah cara yang efektif mencegah terjadinya terorisme. Ujung tombak teror yang terjadi di negeri ini bukan dilakukan oleh orang yang tidak memiliki pekerjaan. Meski bukan pekerjaan formal, banyak pelaku teror memiliki mata pencaharian dan mempunyai penghasilan.
Motif pelaku-pelaku teror di lapangan melakukan aksinya, jika kita telusuri, bukanlah persoalan ekonomi. Hal-hal yang mendorong pelaku merelakan dirinya menjadi martir kebanyakan, jika tidak mau disebut semuanya, adalah ideologi. Ideologi yang mereka yakini tentu tidak datang serta merta seperti wahyu atau wangsit, tapi melalui serangkaian pendidikan. Jadi alangkah kelirunya mencegah terorisme dengan tindakan meningkatkan keamanan atau memberikan santunan sosial. Keduanya lebih merupakan reaksi atas terjadinya teror daripada upaya pencegahan, karena akar media pengembangbiakan terorisme tidak disentuh.
Yang mesti dilakukan pemerintah kita dan tentunya juga kita untuk mencegah berkembangbiaknya terorisme adalah mendidik dan mengajarkan kasih sayang antar sesama makhluk. Mendidik anak-anak kita, keluarga kita, tetangga kita untuk saling menyayangi dan tolong-menolong dengan kemampuan yang kita miliki. Bukankah menolong itu merupakan sedekah. Dan bukankah Allah telah menjanjikan ganjaran yang lebih dari yang dapat kita perhitungkan dari sedekah yang kita berikan.
Bicara tentang tolong-menolong, kasih sayang dan pendidikan, patut kiranya kita melihat apa yang telah dilakukan Greg Mortenson, seorang pendaki gunung asal Amerika. Pendaki yang gagal mencapai gunung tertinggi tertinggi kedua sedunia di Himalaya ini telah meletakkan hatinya pada gunung tertinggi di planet manapun, pendidikan untuk kaum pinggiran. Greg telah menyaksikan terorisme hanya dapat dicegah dengan memberikan pendidikan setara kepada sebuah generasi yang miskin akses pendidikan dan kepada kaum yang selalu dinomorduakan dalam kesempatan mendapat pendidikan, perempuan.
Kasih sayang dan pertolongan yang Greg berikan kepada anak-anak, terutama perempuan, tidak melihat latar belakang yang ditolongnya, suku, kelas, kebangsaan dan agama sekalipun. Akses pendidikan yang Greg sediakan bagi Muslim di kaki Himalaya, pada akhirnya memberikan Greg keyakinan bahwa untuk menumpas terorisme bukan dengan kekuatan militer dengan persenjataan yang canggih, tapi dengan buku dan pensil.
Lalu bagaimana seharusnya negeri ini menumpas dan mencegah terorisme? Pemimpin negeri ini dan juga kita semua mungkin sudah seharusnya meraut pensil kita dan memberikannya kepada anak-anak di sekitar kita.
