Pada tahun 2007, Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara melansir telah terjadi penurunan total lahan sawah sebesar 4,76 persen bila dibandingkan pada tahun 2006. Produksi padi di Kabupaten Tapanuli Selatan pada kurun waktu 2000 hingga 2007, juga dilaporkan BPS Kabupaten Tapanuli Selatan (2008), cenderung berkurang, dengan rata-rata penurunan produksi pertahun sebesar 1,91 persen. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan lahan sawah yang terus berkurang, hasil panen padi yang cenderung turun, dan jumlah penduduk yang terus bertambah akan menjadi ancaman serius bagi kelestarian hutan, khususnya hutan di Batang Toru. Jika kondisi demikian tidak diintervensi dengan kebijakan dan program pertanian terpadu, maka gap antara sumberdaya lahan, jumlah penduduk dan hasil panen padi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari akan semakin besar.
Dalam salah satu artikel di agribisnis-ganesha dikatakan bahwa menurunnya sektor pertanian padi di Indonesia merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri dan ditutup-tutupi. Ada semacam anomali dalam usaha budidaya padi, sebagai produk strategis yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat dan permintaannya terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk, seharusnya usaha budidaya padi berkembang. Kenyataannya, usaha budidaya padi bukan saja tidak berkembang tetapi terus menurun bahkan nyaris ditinggalkan oleh para petani karena dianggap sudah tidak menguntungkan. Dan Desa Sibulan-bulan bisa jadi adalah salah satu desa yang akhirnya akan meninggalkan usaha budidaya padi di masa yang akan datang jika persoalan pertaniannya saat ini tidak terpecahkan, dan kemudian membalak hutan menjadi sumber penghasilan. Kemudian Desa Tanjung Rompa menjadi salah satu desa yang penduduknya banyak yang merambah hutan untuk dikonversi menjadi lahan pertanian.
