Perbedaan perlakuan terhadap sawah di tiga desa yang diamati menunjukkan indikasi bahwa perilaku petani dalam budidaya pertanian akan menghasilkan dampak yang berbeda pada hasil panen yang diperoleh. Asupan pupuk kimia bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan dalam memperoleh hasil panen yang lebih banyak dan berkualitas. Walaupun mempunyai korelasi yang positif antara pemberian pupuk kimia dengan hasil panen padi. Namun tingkat signifikansinya berada pada tingkat sedang saja, yakni sebesarĀ 47 persen. 53 persen sisanya diperkirakan kuat dari perilaku petani dalam usaha budi daya padi.
Dalam kaitannya pola pertanian masyarakat dengan hutan Batang Toru, maka Desa Sibulan-bulan mempunyai kerentanan yang tinggi terhadap pembukaan hutan. Hal ini disebabkan karena hasil panen yang mereka hasilkan persatuan luas lahannya adalah paling kecil dibanding dua desa yang lainnya. Kemudian kebanyakan dari mereka tidak punya sawah sendiri, agar mempunyai bahan makanan mereka harus menyewa sawah atau membagi sepertiga hasil panennya dengan pemilik sawah. Pemilik lahan atau sawah kebanyakan adalah raja huta dan keluarganya, yang jumlahnya di kampung menurut masyarakat kurang lebih 10 orang. Kondisi demikian dapat menjadi salah satu faktor pendorong masyarakat masuk ke hutan, terlebih ketika serangan hama menggagalkan panen sawah mereka. Sedangkan komoditas lain yang bisa diandalkan untuk menopang perekonomian tidak banyak. Kebun karet misalnya, banyak yang sudah tua dan kurang produktif.
Sedangkan pola pertanian di Desa Padang Bujur dan Desa Tanjung Rompa masih lebih baik dari Desa Sibulan-bulan. Lahan sawah yang mereka olah merupakan milik pribadi, sehingga mereka punya kedaulatan atas lahannya. Walaupun demikian, kecilnya luas lahan yang dimiliki setiap petani Tanjung Rompa saat ini akan menjadi persoalan di kemudian hari ketika jumlah penduduk semakin bertambah namun berbanding terbalik dengan kuantitas hasil panen yang tidak meningkat karena tidak ada inovasi teknik budidaya yang dapat memberikan hasil yang maksimal dan terbatasnya lahan pertanian. Hal ini dapat memicu masyarakat masuk ke hutan untuk membuka areal pertanian baru atau mengambil kayu untuk dijual demi memenuhi keperluan hidup.
bagus sekali….
infonya mencerahkan…
saya kagum…
thanks sudah berkunjung, bung erwin